Tampilkan postingan dengan label Struktur Bumi dan Dinamikanya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Struktur Bumi dan Dinamikanya. Tampilkan semua postingan

Senin, 04 April 2022

Pengurangan Resiko Banjir

 

Banjir di Kota
Banjir di Kota


Agar terhindar dari bahaya banjir, kita harus melakukan tindakan siaga banjir baik sebelum, saat banjir, maupun setelah banjir.


A. Tindakan Siaga Sebelum Banjir

Gambar Tindakan siaga sebelum banjir-1
Gambar Tindakan siaga sebelum banjir-2
Gambar Tindakan siaga sebelum banjir-3



Hal terpenting yang kita lakukan adalah mempelajari lingkungan rumah kita apakah daerah rawan banjir atau tidak. Kita juga harus mengenali tanda-tanda datangnya banjir di daerah kita. Selain itu, kita juga harus mengikuti informasi terkait pengumuman banjir dan letak posko evakuasi yang disediakan. Dengan demikian, kita dapat menentukan tindakan yang akan dilakukan.

Selalu siapkan peralatan P3K. Lebih baik jika kita memahami keterampilan pertolongan pertama dan tindakan tanggap darurat. Ketika banjir telah mencapai daerah tempat kita tinggal, kita dapat melakukan persiapan sebelum air meninggi.


B. Tindakan ketika muncul Tanda-tanda Banjir 

Ketika muncul tanda banjir

Jika muncul tanda-tanda banjir, kita dapat memindahkan semua peralatan rumah tangga ke dalam rumah di tempat yang lebih tinggi. Hal tersebut bertujuan agar barang-barang tidak hanyut saat terjadi banjir.

Kita juga hendaknya menyimpan dokumen penting ke dalam wadah yang kedap air. Misalnya kantong plastik. Selain itu, matikan keran air serta matikan listrik. Hal ini untuk menghindari bahaya tersengat arus listrik dan korsleting serta mempersiapkan barang bawaan untuk mengungsi.

Ketika air mulai meninggi, hendaknya kita segera mengungsi. Karena akan lebih mudah dan lebih aman jika kita mengungsi sebelum air meninggi. Dalam proses evakuasi, ikuti jalur yang telah ditentukan. Apabila belum ada jalur evakuasi yang disarankan, maka pilihlah jalur dengan ketinggian yang rendah dan arus air yang tidak membahayakan. Agar didahulukan anak-anak, orang cacat, dan orang lanjut usia. Hal yang terpenting saat proses evakuasi adalah tetap tenang, tidak panik, serta ikuti arahan yang diberikan petugas yang berwenang.


C. Tindakan ketika Banjir terjadi

Secara lengkap, tindakan siaga banjir ketika terjadi banjir seperti dapat dilihat pada Gambar berikut.

Pada saat banjir 1
Pada saat banjir 2



D. Tindakan ketika di Pengungsian

Pada posko evakuasi, ada beberapa tindakan yang perlu diperhatikan. Jangan biarkan anak-anak bermain di daerah banjir, karena berisiko hanyut. Selain itu, kita harus saling membantu sesama pengungsi. Jangan kembali ke rumah sebelum keadaan benar-benar aman dan ada arahan jelas dari petugas yang berwenang.

Di Pengungsian Posko Banjir



E. Tindakan Kembali ke Rumah

Setelah banjir surut, kita dapat kembali ke rumah kita masing-masing. Ketika sampai di rumah hendaknya kita jangan langsung masuk rumah. Perhatikan lingkungan sekitar rumahmu. Adakah benda berbahaya atau tidak? Selain itu, periksa keadaan rumah, seperti tembok dan atap rumah. Hal ini bertujuan untuk melihat kondisi rumah, apakah berpotensi runtuh atau tidak. Pastikan rumah cukup aman untuk dimasuki. Selain itu, kita harus memeriksa kabel atau alat elektronik yang terendam air. Jangan langsung menyalakan listrik, hal ini akan berpotensi mengakibatkan korsleting. Ketika membersihkan rumah, kita juga harus berhati-hati jika ada hewan berbahaya di dalam rumah.

Kembali ke Rumah-1
Kembali ke Rumah-2
Kembali ke Rumah-3

Dengan melakukan tindakan siaga banjir di atas, diharapkan kita dapat selamat dari bencana banjir serta mengurangi kerugian harta benda. Akan tetapi, tidak semua langkah tersebut dapat dilakukan. Tindakan siaga bencana bersifat fleksibel, menyesuaikan kondisi dan sumber daya di lingkungan sekitar rumah.

 

Referensi:

Buku Guru Ilmu Pengetahuan Alam. SMP/MTs Kelas VII. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Edisi Revisi Jakarta: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, 2017.

Buku Siswa Ilmu Pengetahuan Alam. SMP/MTs Kelas VII Semester 2. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Edisi Revisi Jakarta: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, 2017.

Gambar Banjir di Kota oleh Dean Moriarty dari Pixabay


 Baca juga:

Struktur Bumi dan Dinamikanya

01

Lapisan Bumi

02

Atmosfer Bumi

03

Lapisan Atmosfer

04

Tekanan Udara

05

Percobaan Udara Memiliki Massa

06

Suhu di Atmosfer

07

Lapisan Ozon

08

Litosfer

09

Teori Tektonik Lempeng

10

Simulasi Konveksi Inti Bumi

11

Gempa Bumi

12

Pengukuran Kekuatan Gempa

13

Gelombang Tsunami

14

Pengurangan Risiko Bencana

15

Gunung Berapi

16

Pengurangan Resiko Erupsi Gunung Berapi

17

Percobaan Erupsi gunung berapi

18

Hidrosfer

19

Proses terjadinya siklus air

20

Penyebab dan Dampak Banjir

21

Pengurangan Resiko Banjir

 

Minggu, 03 April 2022

Penyebab dan Dampak Banjir

  

Ketika panas Matahari menguapkan air yang ada di laut dan di permukaan Bumi, maka uap air tersebut akan berkumpul di angkasa dan terjadi proses kondensasi (pengembunan) hingga terbentuk awan. Awan tersebut kemudian akan berjalan sesuai dengan arah embusan angin. Penguapan yang terjadi setiap hari mengakibatkan uap yang menjadi awan semakin banyak. Jika awan sudah tidak dapat menampung uap dari evaporasi (penguapan), maka uap air di awan akan turun sebagai hujan. Air hujan akan mengisi cadangan air yang berada di permukaan Bumi. Proses ini berlangsung terus menerus.

Seperti yang telah kamu pelajari bahwa air memiliki siklus daur ulang yang berlangsung terus menerus. Dimulai dengan proses evaporasi hingga akhirnya air jatuh kembali ke Bumi dalam bentuk hujan. Siklus air ini menjaga ketersediaan air di Bumi. Akan tetapi, curah hujan yang terjadi setiap tahun tidak sama. Ada kalanya curah hujan rendah (sedikit) dan ada kalanya curah hujan tinggi. Apabila curah hujan tinggi, simpanan air di permukaan Bumi seperti waduk, danau, atau sungai meluap, sehingga berpotensi banjir.

Perhatikan Gambar di bawah ini. Pada gambar tersebut terlihat bahwa jalanan di sekitar Monumen Selamat Datang (Bundaran HI) tergenang air yang berwarna cokelat. Terlihat pula mobil yang melintas di jalan juga terendam air akibat banjir yang melanda Jakarta beberapa waktu lalu.

Gambar Banjir di Jakarta
Gambar Banjir di Jakarta

Aliran air yang berlebihan hingga meluap ke daratan seperti Gambar diatas disebut banjir. Banjir berasal dari luapan penyimpanan air, baik itu danau, waduk, maupun sungai yang tidak mampu menampung jumlah air yang sangat besar. Ketika penyimpanan air sudah penuh, maka air yang harusnya disalurkan ke penyimpanan akan meluap ke daratan sehingga membanjiri daerah sekitarnya.

Faktor Penyebab Banjir

1. Tingginya curah hujan menjadi salah satu faktor penyebab banjir. Hujan yang terus menerus akan mengakibatkan danau, bendungan, atau sungai penuh dan tidak sanggup lagi menampung air yang masuk. Akibatnya, air akan meluap ke daratan di sekitarnya.

2. Sistem pengelolaan lingkungan yang buruk. Perhatikan Gambar di bawah. Jika sungai yang ada di tengah pemukiman penuh, kemanakah air akan meluap? Berdasarkan gambar tersebut kamu dapat mengetahui bahwa di daerah tersebut tidak ada tempat resapan air. Akibatnya, jika sungai penuh maka air akan membanjiri pemukiman penduduk.

Gambar Kepadatan pemukiman di Jakarta
Gambar Kepadatan pemukiman di Jakarta

Dengan terus bertambahnya jumlah penduduk akan berdampak pada meningkatnya kebutuhan tempat tinggal di suatu daerah, sehingga pemukiman di daerah tersebut semakin meluas. Akibatnya, daerah resapan air akan berkurang karena permukaan tanah terlapisi beton dan aspal yang tidak dapat menyerap air. Hal tersebut diperparah oleh penataan bangunan dan wilayah yang tidak memerhatikan sistem pembuangan air. Selain itu, kurangnya pepohonan yang dapat menyerap air juga menjadi penyebab terjadinya banjir.

3. Akibat perilaku manusia. Coba amati sungai yang tersumbat sampah berikut. Gambar di bawah merupakan gambar kondisi sungai Ciliwung beberapa waktu lalu. Apakah air di sungai tersebut akan mengalir dengan lancar? Berdasarkan gambar tersebut, kamu dapat mengetahui bahwa sampah akan menghambat laju air di sungai.

Gambar Sampah di sungai Ciliwung
Gambar Sampah di sungai Ciliwung

Perilaku manusia yang membuang sampah di sungai atau saluran pembuangan air akan memicu terjadinya banjir. Sampah yang dibuang sembarangan akan menyumbat aliran air di sungai atau saluran pembuangan. Akibatnya, ketika hujan air tidak akan mengalir. Air terus tertimbun di suatu tempat hingga akhirnya meluap dan menjadi banjir.

Selain perilaku membuang sampah sembarangan, pembangunan rumah di bantaran sungai juga dapat memicu banjir. Rumah bantaran sungai dibangun dengan menggunakan tepian sungai. Akibatnya, lebar sungai akan berkurang dan daya tampung sungai tersebut juga ikut berkurang. Ketika hujan terjadi, sungai tidak mampu menampung air dalam jumlah besar. Akhirnya, air akan meluap ke daerah sekitar.

Gambar Pemukiman di Bantaran sungai
Gambar Pemukiman di Bantaran sungai

Dampak Banjir

Banjir yang melanda suatu daerah dapat memberikan dampak yang serius. Dampak yang ditimbulkan oleh banjir meliputi kerusakan fisik hingga korban jiwa. Banjir dapat merusak bangunan seperti rumah, gedung, jalan raya, atau jembatan. Akibatnya, jalur transportasi terputus dan pengiriman bantuan darurat terhambat.

Banjir juga dapat mengontaminasi sumber air bersih. Biasanya banjir telah bercampur dengan lumpur. Apabila banjir bercampur dengan sumber air bersih, maka air bersih akan terkontaminasi. Akibatnya, sumber air bersih akan menjadi langka. Selain itu, banjir dapat menjadi media penyebaran penyakit, seperti diare dan penyakit kulit.

Gambar Kerusakan akibat banjir
Gambar Kerusakan akibat banjir

Dampak lain dari banjir adalah kerugian ekonomi yang besar. Banjir yang menimpa daerah pertanian akan mengakibatkan gagal panen dan lahan pertanian menjadi rusak. Kerusakan fisik yang disebabkan oleh banjir cukup parah. Butuh biaya yang banyak untuk merenovasi suatu bangunan atau lahan pertanian hingga dapat berfungsi kembali.

Banjir juga sering memakan banyak korban jiwa. Pada banjir yang terjadi di Jakarta selama bulan Februari 2015 tercatat hampir 57.000 jiwa menjadi korban (republika. co.id). Banjir dengan debit air yang besar dapat menenggelamkan seseorang. Selain itu, banjir dengan arus yang deras juga dapat menghanyutkan seseorang hingga akhirnya tenggelam dan meninggal.


Referensi:

Buku Guru Ilmu Pengetahuan Alam. SMP/MTs Kelas VII. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Edisi Revisi Jakarta: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, 2017.

Buku Siswa Ilmu Pengetahuan Alam. SMP/MTs Kelas VII Semester 2. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Edisi Revisi Jakarta: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, 2017. 


Baca juga:

Struktur Bumi dan Dinamikanya

01

Lapisan Bumi

02

Atmosfer Bumi

03

Lapisan Atmosfer

04

Tekanan Udara

05

Percobaan Udara Memiliki Massa

06

Suhu di Atmosfer

07

Lapisan Ozon

08

Litosfer

09

Teori Tektonik Lempeng

10

Simulasi Konveksi Inti Bumi

11

Gempa Bumi

12

Pengukuran Kekuatan Gempa

13

Gelombang Tsunami

14

Pengurangan Risiko Bencana

15

Gunung Berapi

16

Pengurangan Resiko Erupsi Gunung Berapi

17

Percobaan Erupsi gunung berapi

18

Hidrosfer

19

Proses terjadinya siklus air

20

Penyebab dan Dampak Banjir

21

Pengurangan Resiko Banjir


Sabtu, 02 April 2022

Proses terjadinya siklus air

 

Air sangat penting bagi kehidupan. Hampir setiap elemen kehidupan memerlukan air untuk melangsungkan kehidupannya. Tumbuhan memerlukan air untuk berfotosintesis, sedangkan manusia memerlukan air untuk metabolisme dan memenuhi kebutuhan hidup. Tidak ada makhluk hidup yang dapat hidup tanpa air.

Jika semua makhluk di Bumi menggunakan air untuk melangsungkan kehidupannya, apakah air yang ada di Bumi akan berkurang dan habis? Atau jumlah air akan bertambah karena adanya hujan? Ataukah jumlah air di Bumi tetap? Air yang ada di Bumi memiliki sebuah siklus yang dinamakan siklus hidrologi atau siklus air. Siklus hidrologi merupakan sebuah proses daur ulang air secara terus menerus, seperti pada Gambar berikut.

Gambar Proses terjadinya siklus air
Gambar Proses terjadinya siklus air

Siklus air bermula ketika panas Matahari menguapkan air yang ada di laut dan di permukaan Bumi (evaporasi). Uap air tersebut akan berkumpul di angkasa dan terjadi proses kondensasi (pengembunan) hingga terbentuk awan. Awan tersebut kemudian akan berjalan sesuai dengan arah embusan angin. Penguapan yang terjadi setiap hari mengakibatkan uap yang menjadi awan semakin banyak. Jika awan sudah tidak dapat menampung uap dari evaporasi, maka uap air di awan akan turun sebagai hujan. Air hujan akan mengisi cadangan air yang berada di permukaan Bumi. Proses ini berlangsung terus menerus.

Seperti yang telah kamu pelajari bahwa air memiliki siklus daur ulang yang berlangsung terus menerus. Dimulai dengan proses evaporasi hingga akhirnya air jatuh kembali ke Bumi dalam bentuk hujan. Siklus air ini menjaga ketersediaan air di Bumi. Akan tetapi, curah hujan yang terjadi setiap tahun tidak sama. Ada kalanya curah hujan rendah (sedikit) dan ada kalanya curah hujan tinggi. Apabila curah hujan tinggi, simpanan air di permukaan Bumi seperti waduk, danau, atau sungai meluap, sehingga berpotensi banjir.

 

Referensi:

Buku Guru Ilmu Pengetahuan Alam. SMP/MTs Kelas VII. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Edisi Revisi Jakarta: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, 2017.

Buku Siswa Ilmu Pengetahuan Alam. SMP/MTs Kelas VII Semester 2. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Edisi Revisi Jakarta: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, 2017. 


Baca juga:

Struktur Bumi dan Dinamikanya

01

Lapisan Bumi

02

Atmosfer Bumi

03

Lapisan Atmosfer

04

Tekanan Udara

05

Percobaan Udara Memiliki Massa

06

Suhu di Atmosfer

07

Lapisan Ozon

08

Litosfer

09

Teori Tektonik Lempeng

10

Simulasi Konveksi Inti Bumi

11

Gempa Bumi

12

Pengukuran Kekuatan Gempa

13

Gelombang Tsunami

14

Pengurangan Risiko Bencana

15

Gunung Berapi

16

Pengurangan Resiko Erupsi Gunung Berapi

17

Percobaan Erupsi gunung berapi

18

Hidrosfer

19

Proses terjadinya siklus air

20

Penyebab dan Dampak Banjir

21

Pengurangan Resiko Banjir