Tampilkan postingan dengan label Tanah dan Keberlangsungan Kehidupan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tanah dan Keberlangsungan Kehidupan. Tampilkan semua postingan

Jumat, 11 Februari 2022

Upaya Menjaga Kelestarian Tanah

  

Setelah kamu mempelajari peran tanah bagi kehidupan, tentu sekarang kamu telah menyadari bahwa tanah begitu penting dalam menunjang kehidupan makhluk hidup di bumi. Apabila tanah hanya digunakan untuk keperluan manusia, tetapi tidak dijaga dengan baik, akan menurunkan kualitas kesuburan tanah. Hilangnya mineral-mineral penting dalam tanah serta mikroorganisme yang ada di dalamnya merupakan tanda berkuranganya kualitas tanah. 

Terdapat beberapa penyebab berkurangnya kualitas tanah, di antaranya adalah erosi yang menyebabkan hilangnya nutrisi tanah, penggunaan pupuk kimia yang berlebihan sehingga menyebabkan pencemaran tanah, pertanian monokultur (pertanian satu jenis tanaman) yang berulang dalam jangka waktu lama, serta pencemaran tanah akibat sampah yang sulit terurai. Oleh karena itu, perlu dilakukan upaya menjaga kelestarian tanah agar tanah di lingkunganmu tetap subur dan terjaga. Berikut ini beberapa upaya untuk menjaga kelestarian tanah.

 

1. Pengelolaan Tanah Menggunakan Tanaman Penutup Tanah dan Pengelolaan Lahan Miring untuk Mengurangi Erosi 

Upaya untuk menjaga agar nutrisi dan mineral penting dalam tanah tidak terbawa oleh aliran air akibat erosi dapat dilakukan dengan menggunakan tanaman penutup atau melakukan reboisasi. Perhatikan Gambar di bawah! Adanya tanaman penutup tanah berfungsi untuk menahan air hujan agar tidak langsung mengenai permukaan tanah. Dengan demikian, dapat mengurangi pengikisan tanah dan mempertahankan produktivitas tanah. Masih ingatkah kamu dengan Aktivitas tentang peran tumbuhan dalam mencegah erosi tanah?

Gambar Reboisasi Hutan
Gambar Reboisasi Hutan

Pengolahan lahan untuk mengurangi erosi dapat dibuat dengan penterasan lahan miring (terasering), yaitu mengubah permukaaan tanah miring menjadi bertingkat-tingkat. Penterasan bertujuan untuk mengurangi panjang lereng dan memperkecil kemiringan lereng sehingga dapat memperlambat kecepatan aliran air di permukaan. Selain itu, untuk menampung dan mengalirkan aliran air permukaan sehingga memungkinkan penyerapan oleh tanah. Dengan demikian, terasering dapat mengurangi erosi. Perhatikan Gambar berikut!

Gambar Terasering pada Sawah
Gambar Terasering pada Sawah


2. Mengurangi Penggunaan Pupuk Kimia 

Penggunaan pupuk kimia pada takaran dan waktu yang tepat memang dapat meningkatkan produksi pertanian. Oleh karena,  senyawa di dalam pupuk kimia merupakan senyawa sederhana yang dapat langsung diserap oleh tumbuhan. Namun, jika pemupukan kimia dilakukan secara terus-menerus dan berlebihan, akan berpotensi mencemari tanah atau dapat menurunkan kualitas tanah. Pupuk kimia atau pupuk buatan merupakan pupuk yang terbuat dari bahan-bahan anorganik dengan komposisi zat tertentu yang diproses secara kimia. 

Upaya untuk mengurangi dampak penggunaan pupuk kimia adalah dengan menggunakan pupuk organik. Pupuk organik merupakan pupuk yang berasal dari  pelapukan sisa-sisa tanaman, hewan, dan manusia. Sumber bahan organik dapat berupa kompos, pupuk hijau, pupuk kandang, limbah ternak, limbah industri yang menggunakan bahan pertanian, dan limbah kota (sampah). Pupuk organik berasal dari bahan yang dapat terurai dan dapat memperbaiki struktur tanah serta menjaga populasi mikroorganisme tanah sehingga menjaga kualitas tanah dalam jangka panjang.

Gambar Pupuk Organik
Gambar Pupuk Organik

 
 

3. Pengolahan Tanah yang Tepat untuk Pertanian Monokultur 

Pertanian monokultur merupakan penanaman satu jenis tumbuhan pada suatu lahan dalam jangka waktu tertentu atau sesuai dengan umur tanaman. Misalnya penanaman padi, jagung, kedelai, tebu, dan tanaman budi daya lainnya. Tahukah kamu, apabila pertanian monokultur ini dilakukan secara terus-menerus tanpa adanya pengolahan tanah yang tepat maka dapat menurunkan tingkat kesuburan tanah. Lahan yang ditanami satu jenis tumbuhan cenderung mengurangi keanekaragaman hayati pada lahan tersebut termasuk mikrorganisme di dalam tanah. 

Salah satu upaya pengolahan tanah yang tepat untuk pertanian monokultur adalah dengan dilakukan pergiliran tanaman. Lahan yang biasa ditanami padi, pada musim kemarau dapat ditanami tanaman palawija atau tanaman yang dapat mengikat nitrogen dari udara dengan bantuan bakteri Rhizobium. Tanaman yang termasuk kelompok ini yaitu tanaman kacang-kacangan seperti kacang tanah, kedelai, buncis, kacang hijau dan kara. Dengan demikian, ketersediaan unsur hara pada lahan tersebut dapat terjaga tanpa penambahan pupuk kimia yang berbahaya dan berpotensi mengurangi tingkat kesuburan tanah.

 

4. Daur Ulang Sampah yang Sulit Terurai 

Sampah yang sulit terurai seperti plastik, kaca, logam berpotensi mengurangi tingkat kesuburan tanah. Mikroorganisme dalam tanah memang dapat menguraikan sampah-sampah tersebut, namun membutuhkan waktu yang sangat lama. Apabila tidak ada pengolahan sampah yang tepat, akan terjadi penumpukan sampah yang sulit terurai, akibatnya tanah menjadi tidak subur. Upaya yang dapat kamu lakukan di antaranya dengan memisahkan antara sampah yang mudah terurai dengan sampah yang sulit terurai. 

Sampah yang sulit terurai seperti plastik, kaleng, atau kaca dapat kamu daur ulang menjadi barang-barang yang berguna seperti pada Gambar di bawah. Selain dapat membantu menjaga kelestarian tanah, kamu juga dapat mengubah barang bekas menjadi barang yang memiliki nilai ekonomi. Nah, sebagai siswa yang peduli lingkungan coba gunakan kreativitasmu untuk membuat sampah-sampah yang sulit terurai menjadi barang-barang yang lebih berguna dan memiliki nilai ekonomi tinggi.

Gambar Hasil Daur Ulang Sampah
Gambar Hasil Daur Ulang Sampah


Referensi:

Ilmu Pengetahuan Alam. SMP/MTs Kelas IX Semester 2. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Edisi Revisi Jakarta: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, 2017

Baca juga:

Tanah dan Keberlangsungan Kehidupan

01

Tanah dan Keberlangsungan Kehidupan

02

Peran Tanah bagi Kehidupan

03

Pengamatan Organisme Tanah

04

Organisme tanah

05

Peran Organisme Tanah

06

Menentukan Tekstur Tanah

07

Mengetahui Sifat Tanah

08

Proses Pembentukan Tanah

09

Peran Tumbuhan dalam Mencegah Erosi

10

Komponen Tanah

11

Mengidentifikasi Komponen Penyusun Tanah

12

Mengetahui Kandungan Air pada Tanah

13

Mengidentifikasi Tingkat Kesuburan Tanah

14

Pertanian Organik

15

Erosi Tanah dan Pencegahannya

16

Upaya Menjaga Kelestarian Tanah

Kamis, 10 Februari 2022

Erosi Tanah dan Pencegahannya

 

Erosi Batuan
Gambar Erosi Batuan

1. Pembentukan Tanah

Tanah terbentuk dari pelapukan batuan secara fisikawi, kimiawi, dan biologis. Pelapukan fisikawi disebabkan oleh iklim, sinar matahari, dan curah hujan. Pelapukan secara biologis terjadi oleh adanya aktivitas mikroorganisme tanah. Pelapukan batuan secara kimiawi terjadi akibat hidrasi dan hidrolisa.

 

2. Erosi Tanah

Erosi tanah yaitu berpindahnya sebagian lapisan tanah karena angin, air, atau es. Erosi sebenarnya merupakan proses alami, tetapi dapat diperparah oleh aktivitas manusia dalam tata guna lahan yang buruk. Erosi tanah yang terjadi di Indonesia biasanya akibat derasnya arus air yang melewati suatu kawasan bertanah.

Erosi tanah mengikis lapisan tanah teratas yang subur dan banyak dihuni oleh organisme tanah. Setelah erosi, yang tersisa adalah tanah yang kurang subur dan kualitas tanah menjadi kurang baik. 

Agar tanah terhindar dari bahaya erosi, upaya yang dapat dilakukan adalah dengan mengadakan reboisasi atau penanaman kembali di tanah yang gundul dan tanah yang banyak dilewati arus air. Selain itu, dengan menerapkan terasering, yang dapat menjaga hilangnya tanah akibat aliran air pada lahan-lahan yang miring.


3. Menjaga Kelestarian Tanah

Upaya yang dapat dilakukan untuk menjaga kelestarian tanah sebagai berikut.

a. Reboisasi.

b. Pengolahan tanah dengan meminimalkan penggunaan bahan kimia.

c. Pengolahan tanah sesuai jenis tanah.

d. Mengurangi penggunaan bahan-bahan yang tidak dapat diuraikan oleh mikroorganisme (nonbiodegradable).

e. Menjaga kualitas dan kuantitas air tanah.

f. Membuat terasering, yaitu menanam tanaman dengan sistem berteras-teras untuk mengurangi terjadinya erosi.

 

4. Mempertahankan Kemampuan tanah menyimpan air

Kemampuan tanah menyimpan air dapat dijadikan indikator kemampuan tanah menyimpan nutrisi dalam tanah. Tanah yang memiliki butiran besar, seperti tanah pasir, cenderung tidak dapat menyimpan nutrisi tanah karena nutrisi akan mudah terlarut dan tergerus oleh air. Contoh yang dapat dilihat adalah di padang pasir. Tumbuhan yang hidup di daerah tersebut tidak banyak variasi, hanya tumbuhan dengan karakteristik tertentu seperti kaktus atau rumput yang mampu bertahan dalam kondisi keterbatasan nutrisi.


Referensi:

Ilmu Pengetahuan Alam. SMP/MTs Kelas IX Semester 2. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Edisi Revisi Jakarta: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, 2017

Gambar Erosi Batuan dari Pixabay.com 

Baca juga:

Tanah dan Keberlangsungan Kehidupan

01

Tanah dan Keberlangsungan Kehidupan

02

Peran Tanah bagi Kehidupan

03

Pengamatan Organisme Tanah

04

Organisme tanah

05

Peran Organisme Tanah

06

Menentukan Tekstur Tanah

07

Mengetahui Sifat Tanah

08

Proses Pembentukan Tanah

09

Peran Tumbuhan dalam Mencegah Erosi

10

Komponen Tanah

11

Mengidentifikasi Komponen Penyusun Tanah

12

Mengetahui Kandungan Air pada Tanah

13

Mengidentifikasi Tingkat Kesuburan Tanah

14

Pertanian Organik

15

Erosi Tanah dan Pencegahannya

16

Upaya Menjaga Kelestarian Tanah

Rabu, 09 Februari 2022

Pertanian Organik

  

Pertanian Organik
Gambar Pertanian Organik

Saat ini orang lebih banyak beralih pada pertanian organik. Pertanian organik menggunakan pupuk alami atau pupuk organik, bukan pupuk kimia sintetis. Pupuk organik memberikan beberapa keuntungan bagi kita karena pupuk organik melepaskan mineral secara perlahan melalui proses pelapukan. Oleh karena itu, ketersediaan mineral tanah lebih terjaga dan kita tidak perlu sering memupuk. 

Kejadian sebaliknya apabila tanah dipupuk dengan pupuk kimia buatan. Pupuk kimia buatan menyediakan mineral secara langsung, tetapi mineral dari pupuk kimia ini akan lebih cepat hilang dari tanah. 

Pupuk organik dan pupuk kimia buatan memang akan melepaskan mineral-mineral yang sama sesuai dengan yang dibutuhkan tumbuhan, tetapi kita tetap harus pandai dan bijak dalam menggunakannya. 

Jika kita terlalu sering memupuk tanah dengan pupuk kimia buatan, akan berdampak buruk pada lingkungan di sekitar kita. Pupuk kimia buatan akan mudah terlarut dan terbawa oleh air hujan ke sungai, sehingga mengakibatkan pertumbuhan alga dan tumbuhan air yang sangat cepat yang melebihi kondisi normal. Kondisi ini disebut dengan eutrofikasi.  

Jika tumbuhan air terlalu subur, maka akan mengganggu kehidupan ikan. Apabila tumbuhan air tersebut mati, maka organisme pengurai akan membutuhkan banyak oksigen untuk menguraikannya. Kondisi tersebut menyebabkan oksigen terlarut di dalam air menjadi berkurang sehingga dapat mengakibatkan kematian bagi banyak ikan atau organisme air lainnya.


Referensi:

Ilmu Pengetahuan Alam. SMP/MTs Kelas IX Semester 2. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Edisi Revisi Jakarta: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, 2017

Gambar Pertanian Organik dari Pixabay.com 

Baca juga:

Tanah dan Keberlangsungan Kehidupan

01

Tanah dan Keberlangsungan Kehidupan

02

Peran Tanah bagi Kehidupan

03

Pengamatan Organisme Tanah

04

Organisme tanah

05

Peran Organisme Tanah

06

Menentukan Tekstur Tanah

07

Mengetahui Sifat Tanah

08

Proses Pembentukan Tanah

09

Peran Tumbuhan dalam Mencegah Erosi

10

Komponen Tanah

11

Mengidentifikasi Komponen Penyusun Tanah

12

Mengetahui Kandungan Air pada Tanah

13

Mengidentifikasi Tingkat Kesuburan Tanah

14

Pertanian Organik

15

Erosi Tanah dan Pencegahannya

16

Upaya Menjaga Kelestarian Tanah

Selasa, 08 Februari 2022

Mengidentifikasi Tingkat Kesuburan Tanah

  

Pada aktivitas ini kamu akan mencoba mengidentifikasi tingkat kesuburan tanah dengan salah satu sifat fisika tanah yakni dengan warna tanah dan sifat kimia tanah dengan mengukur pH tanah.

Tanah Subur
Tanah Subur

Apa yang kamu perlukan?

1. Tanah

2. Kertas lakmus atau pH universal atau kunyit

3. Gelas air mineral

4. Sendok

5. Air

 

Apa yang harus kamu lakukan? 

A. Mengukur pH Tanah

1. Ambillah tanah dari tempat tinggalmu. Kamu dapat mengambil tanah dari beberapa titik di tempat tersebut. Campur semua tanah dari beberapa titik tersebut secara merata.

2. Ambil 1/4 gelas tanah, kemudian campur dengan 200 mL air.

3. Aduk campuran tanah dan air tersebut, kemudian tunggu hingga tanah mengendap.

4. Setelah airnya mulai jernih, masukkan kertas lakmus atau pH universal dan tunggu hingga 1 menit. Usahakan agar kertas lakmus dan pH universalnya tidak terkena tanah yang mengendap di bawahnya!

5. Jika menggunakan kunyit, potonglah kunyit sekitar 2 cm kemudian belah menjadi dua bagian. Masukkan satu bagian ke dalam campuran sampel tanah dan air, kemudian diamkan selama 30 menit. Bagian belahan kunyit yang lain digunakan sebagai pembanding.

6. Amatilah perubahan yang terjadi pada indikatormu! Gunakan criteria Tabel Indikator Perubahan Warna  berikut untuk menentukan hasilnya!

Tabel Indikator Perubahan Warna

Keterangan: Jika menggunakan pH universal cocokkan warna kertas pH dengan skala dan warna di wadah indikator universal untuk menentukan nilai pH.

 

B. Menentukan Warna Tanah

1. Ambil bongkahan tanah dari lingkungan sekitarmu!

2. Amati warna tanahnya. Gunakan kriteria berikut untuk mendeskripsikan hasilnya! 

(a) Warna hitam dan gelap: mengandung banyak humus 

(b) Warna kemerahan: mengandung banyak mineral besi  

(c) Warna kuning cokelat: mengandung banyak mineral limonit 

(d) Warna pucat atau kekuning-kuningan: mengandung banyak kuarsa 

3. Selanjutnya, bandingkan tingkat produktivitas tanah dengan kriteria berikut. 

tingkat produktivitas tanah

 

Tabel Hasil Identifikasi Kesuburan Tanah

Tabel Hasil Identifikasi Kesuburan Tanah

 

Apa yang perlu kamu diskusikan?

1. Berapa pH tanah yang kamu amati?

2. Termasuk dalam warna apakah tanah yang kamu amati?

3. Berdasarkan pH dan warna tanah, bagaimanakah tingkat kesuburan tanah yang kamu amati?

4. Apa yang dapat kamu simpulkan dari aktivitas ini?

 

Jawaban Hasil Diskusi:

1. Tanah daerah A: pH 5 => tanah asam dan tanah daerah B: pH 7 => tanah normal.

2. Daerah A: cokelat dan daerah B: hitam.

3.  pH normal dan warna tanah hitam menunjukkan bahwa tanah tersebut subur.

4. Kesimpulan: Tanah di daerah A bersifat asam dan kurang subur, sedangkan tanah B subur. 

 

Referensi:

Ilmu Pengetahuan Alam. SMP/MTs Kelas IX Semester 2. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Edisi Revisi Jakarta: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, 2017

Gambar Tanah Subur dari Pixabay.com

Baca juga:

Tanah dan Keberlangsungan Kehidupan

01

Tanah dan Keberlangsungan Kehidupan

02

Peran Tanah bagi Kehidupan

03

Pengamatan Organisme Tanah

04

Organisme tanah

05

Peran Organisme Tanah

06

Menentukan Tekstur Tanah

07

Mengetahui Sifat Tanah

08

Proses Pembentukan Tanah

09

Peran Tumbuhan dalam Mencegah Erosi

10

Komponen Tanah

11

Mengidentifikasi Komponen Penyusun Tanah

12

Mengetahui Kandungan Air pada Tanah

13

Mengidentifikasi Tingkat Kesuburan Tanah

14

Pertanian Organik

15

Erosi Tanah dan Pencegahannya

16

Upaya Menjaga Kelestarian Tanah